SEJARAH DAKWAH BANI ABBASIYAH
Disusun oleh :
Rina badriyah 1341040028
Helda purwaningsih 1341040049
Iis Yulita 13410400131
Mata Kuliah : ejarah dakwah
Dosen : Dr. Abdul syukur, MA`

FAKULTAS
DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
IAIN
RADEN INTAN LAMPUNG
2014
DAFTAR ISI
PENDAHULUAN..................................................................................
A.
Latar belakang...................................................................... ..... 1
B.
Rumusan masalah................................................................ ..... 1
C.
Tujuan penulisan.................................................................. ..... 1
BAB I PEMBAHASAN..................................................................
A.
Periode Dinasti Abbasiyah................................................... ..... 2
B.
Kehidupan Dakwah Pada Masa Dinastii Abbasiyah.......... ..... 4
BAB II PENUTUP..........................................................................
A.
Kesimpulan.......................................................................... ..... 5
Daftar pustaka......................................................................... ..... 6
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Dalam konteks alur historis, para sejarahwan pada
umumnya menyatakan bahwa bangsa Arab merupakan bangsa yang pernah menguasai
peradaban dunia, baik di bagian timur maupun barat, baik dalam bentuk ilmu
pengetahuan maupun kebudayaan yang menyebar ke seluruh pelosok di belahan
dunia. Hal ini ditandai dengan tersebar luasnya agama Islam yang merupakan
salah satu identitas bangsa Arab di seluruh dunia melalui para pejuang-pejuang
Islam pada masa dulu dengan ditemukannya peninggalan serta bukti sejarah
lainnya, sehingga pada masa kini agama Islam menjadi salah satu agama yang
mempunyai penganut terbanyak di dunia.
Agama Islam
yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW selaku utusan Allah, beliau merupakan sosok
revolusioner budaya bangsa Arab yang pada masa sebelumnya berada di bawah garis
normal selaku manusia yang beradab, dan dengan budaya yang sangat
memprihatinkan karena mayoritas tidak memiliki tata aturan kehidupan. Setelah
Islam, datang dengan kehadiran nabi Muhammad, maka misi utama beliau adalah
menyempurnakan akhlak bangsa Arab dan juga dunia pada masa tersebut.
Setelah nabi
Muhammad wafat, Islam tetap berkembang dengan peranan para sahabat dan tabi’in
di masa sesudahnya dengan melalui proses transisi yang panjang, sampai pada
akhirnya peradaban Islam berkembang pesat ke seluruh dunia. Salah satu masa di
mana Islam berkembang pesat adalah pada masa dinasti Abbasiyah, karena pada
masa ini Islam maju dan menjadi salah satu agama yang memiliki banyak peran
dalam kemajuan dunia. Terkait dengan materi yang ditawarkan pada mata kuliah
Sejarah Dakwah yang menyangkut pembahasan tentang sejarah dakwah pada masa bani
Abbasiyah, maka makalah ini disusun dengan mengangkat judul: Sejarah Dakwah
Bani Abbasiyah.
B.
Rumusan Masalah
Rancangan
struktur pembahasan masalah pada makalah ini dengan melihat beberapa sumber
literatur yang memuat hal terkait dengan judul makalah adalah sebagai berikut:
1.
Bagaimana periode dinasti Abbasiyah?
2.
Bagaimana kehidupan dakwah pada masa dinasti Abbasiyah?
C.
Tujuan Penulisan
Menyangkut
rumusan masalah yang telah dicantumkan di atas, maka makalah ini disusun dengan
tujuan membahas dan memberikan penjelasan mengenai hal sebagai berikut:
1.
Periode dinasti Abbasiyah
2.
Kehidupan dakwah pada masa dinasti Abbasiyah
BAB II
PEMBAHASAN
A. Periode
Dinasti Abbasiyah
Tokoh pendiri dinasti Abbasiyah bernama Abdullah
al-Saffah bin Muhammad bin Ali bin Abdillah bin Abbas, dan dinamakan dengan
dinasti Abbasiyah karena pendiri dan penguasa negeri adalah keturunan Abbas
yang merupakan salah satu paman dari nabi Muhammad SAW. Abdullah al-Saffah merupakan seorang khalifah (pemimpin) yang mempunyai
loyalitas tinggi, sopan, dan disegani oleh rakyatnya pada masa tersebut.
Awal mula pemikiran
untuk mendirikan bani Abbasiyah adalah pada masa pemerintahan khalifah Umar bin
Abdul Aziz, hal ini dikarenakan pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz yang
dipandang sebagai orang yang fanatik terhadap agama, dan banyak membuat para
Gubernur yang dianggap menyimpang diturunkan dari jabatan, selain itu juga
disebabkan pada masa Mu’awiyah mendirikan dinasti Umaiyyah marak kebiasaan
politik yang berupa siasat kekerasan, sampai pada masa khalifah Umar bin Abdul
Aziz, dan pada akhirnya bermunculan propaganda untuk mendirikan negara baru.
Pada abad ketujuh, terjadi pemberontakan di seluruh
negeri pada masa dinasti Umaiyyah, dan yang paling dahsyat adalah antara
keturunan Abbas melawan Marwan bin Muhammad yang pada akhirnya dimenangkan oleh
keturunan Abbas, dan sejak masa itu dinasti Umaiyyah runtuh dan merupakan awal
berdirinya pemerintahan dinasti Abbasiyah.
Dinasti Abbasiyah berkuasa selama lebih dari lima
abad, yaitu tahun 132 Hijriah sampai 656 Hijriah, beberapa pakar sejarah
membagi dinasti Abbasiyah dalam beberapa periode yaitu:
1.
Periode Abbasiyah I (132 H - 447 H); dan
2.
Periode Abbasiyah II (447 H - 656 H).
Dinasti Abbasiyah merupakan pemerintahan yang pertama
kali mengorganisasikan penggunaan tentara-tentara budak yang disebut Mamaluk
pada abad 9, tepatnya pada masa pemerintahan Al-Makmun yang merupakan salah
satu pemimpin dinasti Abbasiyah yang menjadikan tentara-tentara budak yang
didominasi oleh bangsa Turki dan juga banyak diisi oleh bangsa Berber dari
Afrika Utara dan Slav dari Eropa Timur, ini merupakan suatu inovasi atau
perubahan karena pada masa sebelumnya yang digunakan sebagai tentara adalah
tentara bayaran dari Turki.
Dasar-dasar pemerintahan dinasti Abbasiyah diprakarsai
oleh Abu Abbas dan Abu Ja’far al-Mansur, setelah terbentuk sebuah infrastruktur
yang kuat, pada tahap berikutnya dilanjutkan dengan masa keemasan agama Islam
pada tujuh khalifah berikutnya, yaitu:
1.
Al-Mahdi (775-785 M);
2.
Al-Hadi (775-786 M);
3.
Harun al-Rasyid (786-809 M);
4.
Al-Makmun (813-833 M);
5.
Al-Mu’tasim (833-842 M);
6.
Al-Watsiq (842-847 M); dan
7.
Al-Mutawakkil (847-861 M).
Pada masa pemerintahan khalifah-khalifah tersebut,
agama Islam mengalami kecemerlangan dalam peradaban sehingga menjadi peradaban
yang paling maju di dunia pada masa tersebut, hal ini disebabkan karena
kesadaran mereka dengan pentingnya ilmu pengetahuan, serta pemahaman mereka
bahwa sebuah kekuasaan tidak akan kokoh tanpa dukungan ilmu pengetahuan, karena
ilmu merupakan sumber dari kehidupan yang bermakna.
Masa gemilang pada masa dinasti Abbasiyah adalah masa
penerjemahan (750-900 M), karena banyak buku ilmu pengetahuan dari Yunani,
Persia, dan India, diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, khususnya pada masa
pemerintahan Harun al-Rasyid dan al-Makmun, juga didirikan lembaga penerjemahan
yang bernama Dâr al-Hikmah yang dipimpin oleh Hunain bin Ishak, selain
itu yang menjadi pelopor penerjemahan lainnya adalah Yahya bin Masawaih.
Masa kemunduran dinasti Abbasiyah berawal sejak masa
pemerintahan khalifah Abu Ja’far Muhammad al-Muntashir (247-248 H/861 M-862 M),
hingga masa kemunduran dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad, yaitu pada
masa pemerintahan Abu Ahmad Abdullah al-Mu’tashim (640 H-656 H/1242 M-1258 M),
adapun beberapa faktor yang menyebabkan runtuhnya dinasti Abbasiyah pada masa
pemerintahan al-Mu’tashim, di antaranya adalah:
1. Adanya friksi di
dalam dinasti Abbasiyah, sehingga membuat dinasti Abbasiyah hanya sibuk
mempertahankan wilayah yang sudah ada, kemudian mengamankan perbatasan wilayah,
dan hal tersebut juga tidak dapat berhasil sepenuhnya, karena terdapat beberapa
wilayah yang memisahkan diri dari pemerintahan pusat.
2. Gaya hidup mewah pada
lingkup pejabat serta keluarganya.
3. Khalifah yang
berkuasa bukan sosok yang kuat, sehingga mudah dipengaruhi.
4. Banyak serangan yang
dilakukan kaum Salibis ke Palestina.
5. Serangan Mongol ke
Baghdad yang mengakhiri riwayat dinasti Abbasiyah.
Dapat disimpulkan bahwa periode dinasti Abbasiyah ada
dua, yaitu periode keemasan dan periode kemunduran, dan pada masa dinasti
Abbasiyah merupakan masa kemajuan Islam yang paling pesat sehingga menjadi
pusat ilmu pengetahuan dan peradaban dunia, sehingga agama Islam dapat menyebar
luas ke seluruh dunia dan kemudian menjadi salah satu agama yang terbesar dan
memiliki penganut terbanyak di dunia.
B.
Kehidupan Dakwah pada Masa Dinasti Abbasiyah
Dinasti Abbasiyah merupakan dinasti yang berdiri di
atas pedoman dasar yaitu agama Islam, selama masa pemerintahan dinasti
Abbasiyah merupakan sarana dan pendukung dakwah Islam, dengan berlandaskan
dakwah Islam dinasti Abbasiyah menjadi kerajaan Islam yang dapat mengubah dunia
dengan cahaya Islam, dakwah pada masa dinasti Abbasiyah secara terperinci dapat
dipahami sebagai berikut:
1. Lingkup negara dan
penguasa
khalifah Abbasiyah Para pada masa keemasan merupakan
ulama yang mencintai ilmu pengetahuan, sehingga mayoritas mereka menghormati
para ulama dan pujangga, dan keturunan dari para penguasa mendapatkan
pendidikan khusus dari para ulama dan pujangga tersebut, kemudian memfasilitasi
upaya penerjemahan berbagai ilmu dari bahasa lain ke dalam bahasa Arab,
kemudian melakukan perluasan dan pembinaan wilayah dakwah, dakwah Islam mulai
redup dalam lingkup penguasa setelah dinasti Abbasiyah mengalami kemunduran.
Para pemimpin dinasti Abbasiyah pada masa keemasan
dominan memandang dunia adalah sarana yang mengantarkan manusia untuk mencapai
kebahagiaan akhirat, mereka juga percaya bahwa seluruh materi tidak dapat
dipisahkan dari rohani. Para khalifah dinasti Abbasiyah periode keemasan telah
berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan pengetahuan serta filsafat di
dalam agama Islam, hingga masa setelah kemunduran dinasti Abbasiyah ilmu pengetahuan
dan filsafat tetap berkembang hingga sekarang.
2. Lingkup masyarakat
Aktivitas dakwah dalam lingkup masyarakat tidak
terpengaruh oleh kelemahan dan kerusakan yang terjadi di dalam lingkup negara
dan penguasa, karena aktivitas dakwah dan ilmiah sangat marak dilakukan di
Baghdad, karena masjid dan sekolah dipenuhi dengan kajian ilmiah dengan materi
yang bervariasi, hal ini didukung dengan keberadaan ulama yang berperan besar
pada masa tersebut.
Para ulama berperan dalam hal pencerahan iman masyarakat
pada masa tersebut, dan materi yang paling menonjol pada saat tersebut adalah tazkiyah
al-nufûs (pembersihan hati), peringatan tentang negeri akhirat, serta
ajakan agar tidak terpengaruh oleh kehidupan dunia, materi-materi ini muncul
sebagai bentuk reaksi dari aksi kemewahan dan kemaksiatan yang terjadi pada
lingkup negara dan penguasa. Dapat disimpulkan bahwa kehidupan dakwah pada masa
dinasti Abbasiyah dalam lingkup penguasa berada pada masa keemasan, hal ini
disebabkan para khalifah selain pemimpin juga seorang ulama, dan dalam lingkup
masyarakat dakwah Islam berkembang pesat didukung peranan ulama yang banyak
hidup dan dihormati oleh masyarakat dan pemimpin.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Sebagai
hasil analisa dari berbagai literatur yang dapat dicapai, dan sebagai
integritas dari perumusan masalah, maka makalah ini dapat disimpulkan sebagai
berikut:
1.
Periode dinasti Abbasiyah ada 2, yaitu periode keemasan dan periode kemunduran,
dan dalam masa periode keemasan dinasti Abbasiyah menjadikan Islam berkembang
pesat, karena peradaban ilmu pengetahuan Islam menjadi sumber utama pengetahuan
dunia, sehingga pada masa tersebut Islam berkembang dengan pesat dan tersebar
ke seluruh dunia.
2. Kehidupan dakwah pada
masa dinasti Abbasiyah dibagi menjadi dua lingkup, yaitu lingkup negara dan
penguasa dan lingkup masyarakat, dalam lingkup negara dan penguasa dakwah Islam
berkembang ketika masa keemasan, karena penguasa atau pemimpin pada masa
tersebut selain sebagai pemimpin juga merupakan seorang ulama, sehingga di
dalam lingkup pemimpin dakwah berkembang dengan pengajaran agama Islam yang
diberikan oleh para ulama, akan tetapi dakwah di dalam lingkup negara dan
penguasa ikut meredup pada masa kemunduran dinasti Abbasiyah, sedangkan di
dalam lingkup masyarakat tetap berkembang pesat, karena banyaknya ulama yang
berperan besar menghidupkan dakwah Islam pada masa dinasti Abbasiyah.
DAFTAR PUSTAKA
A. Syalabi, Sejarah
dan Kebudayaan Islam 3, pent. Muhammad Labib Ahmad, Cet. 9, Jakarta:
al-Husna Zikra, 1997.
Asmuni, M.
Yusran, Dirasah Islamiyah II: Pengantar Studi Sejarah Kebudayaan Islam dan Pemikiran,
Cetakan ketiga, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1998.
Hamka, Sejarah
Umat Islam, Cetakan Keempat, Singapura: Pustaka Nasional, 2002.
Ilaihi,
Wahyu, dan Harjani Hefni, Pengantar Sejarah Dakwah, Jakarta: Kencana
Prenada Media Group, 2007.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar